Selamat Datang di Denting Berdetak Blog, Silahkan Download File DIsini Gratis . . . !!!
Jangan Lupa Untuk Meninggalkan Komentar Anda.

Selasa, 13 September 2011

Asuhan Keperawatan Klien dengan Post Op Tutup Kolostomi



Post operasi tutup kolostomi merupakan suatu rangkaian tindakan pembedahan pada post kolostomi sementara.

Perjalanan dan riwayat tindakan.
Klien yang mengalami kelainan pada usus seperti: obstruksi usus, kanker kolon, kolitis ulceratif, penyakit Divertikuler akan dilakukan pembedahan yang disebut dengan kolostomi yaitu lubang dibuat dari segmen kolon (asecenden, transversum dan sigmoid). Lubang tersebut ada yang bersifat sementara dan permanen. Kolostomi asenden dan transversum bersifat sementara , sedangkan kolostomi sigmoid bersifat permanen.
Kolostomi yang bersifat sementara akan dilakukan penutupan .

Berdasarkan lubang kolostomi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
  1. Single barreled stoma, yaitu dibuat dari bagian proksimal usus. Segmen distal dapat dibuang atau ditutup.
  2. Double barreled, biasanya meliputi  kolon transversum. Kedua ujung dari kolon yang direksesi dikeluarkan melalui dinding abdominal mengakibatkan dua stoma. Stoma distal  hanya mengalirkan mukus dan stoma proksimal mengalirkan feses.
  3. Kolostomi lop-lop, yaitu kolon transversum dikeluarkan melalui dinding abdomen dan diikat ditempat dengan glass rod. Kemudian 5-10 hari usus membentuk adesi pada dinding abdomen, lubang dibuat di permukaan terpajan dari usus dengan menggunakan pemotong.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada klien dengan post kolostomi:
-          Irigasi diperlukan untuk mengatur defekasi
-          Pembersihan usus diperlukan sebelum pemeriksaan kontras barium saluran GI.

Rencana Keperawatan terintegrasi:
  1. Perawatan pascaoperasi
  2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
  3. Terapi intra vena
  4. Imobilitas
  5. Nyeri.
Pengkajian Data Dasar
  1. Pemeriksaan fisik terhadap daerah penutupan kolostomi:
-          Keadaan luka: tanda kemerahan, pengeluaran cairan
-          Adanya pembengkakan dan menutup sempurna
  1. Pemeriksaan daerah rektum:
-          Pengeluaran feses
  1. Kecemasan
  2. Nyeri
Diangosa keperawatan
  1. Nyeri berhubungan dengan perlukaan skunder operasi penutupan kolostomi
  2. Cemas berhubungan dengan ancaman terhadap disfungsi rektum
  3. Resiko tinggi terhadap komplikasi : infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan

1.      Diagonsa: Nyeri berhubungan dengan perlukaan skunder operasi penutupan kolostomi

Tanda-tanda
Subyektif:
-          Mengungkapkan ketidaknyamanan, dan nyeri daerah perut.
Obyektif:
-          Merintih, menangis
-          Melindungi sisi nyeri.
-          Nadi meningkat
Kriteria evaluasi:
-          Mengungkapkan tidak ada nyeri
-          Tidak merintih, menangis
-          Ekspresi wajah rileks
INTERVENSI :
1.      Kaji keluhan dan derajat nyeri
R/ Untuk mengetahui sifat dan tingkat nyeri sehingga memudahkan dalan memberi tindakan.
2.      Motivasi untuk melakukan teknik pengaturan nafas dan mengalihkan perhatian
R/ Relaksasi dan retraksi dapat mengurangi rangsangan nyeri
3.      Hindari sentuhan seminimsl mungkin untuk mengurangi rangsangan nyeri
R/ Sentuhan dapat meningkatkan rangsangan nyeri
4.      Pertahankan puasa
R/ Untuk mengistirahatkan usus.
5.      Berikan analgetik sesuai dengan program medis.
R/ Analgesik membantu memblok jaras nyeri.

2.      Diagnosa : Cemas berhubungan dengan ancaman disfungsi rektum
Tanda-tanda:
Subyektif:
-          Mengeluh takut kalau anusnya tidak bisa berfungsi normal
-          Melaporkan perasaan gugup
Obyektif:
-          Ekspresi wajah tegang
-          Nadi meningkat.
Kritria evaluasi:
-          Ekspresi wajah rileks
-           Cemas dan gugup berkurang
-          Mengungkapkan pemahaman tentang proses pemulihan fungsi rektum.
Intervensi :
1.   Jelaskan proses pemulihan fungsi anus secara bertahap dan butuh waktu agak lama.
R/ Pemahaman dapat mengurangi kecemasan
2.   Lakukan pendekatan dengan tenang dan berikann dorongan urtuk bertanya.
R/ Dengan kondisi tenang akan lebih memudahakan pemahaman.
3.   Libatkan keluargan dalam setiap tindakan.
R/ Dengan keterlibatan keluarga akan memberi perhatian yang lebih bagi klien.

3.  Diagnosa : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan pembedahan daerah abdomen

Tanda-tanda
Subyektif:
-          Mengeluh deman
-          Mengekuh nyeri
-          Mengeluh kaku
Obyektif:
-          SDP > 10.000/mm3
-          Suhu > 37,2
Kriteria evaluasi:
-          Suhu < 37,2
-          SDP < 10.000/mm3
-          Tidak terdapat tanda-tanda radang: panas, kemerahan, bengkak, kekakuan daerah perut.
Intervensi :
1.      Pantau hasil:
-          Hasil SDP
-          Suhu tiap 4 jam
R/ Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan dan penyimpangan dari hasil yang diharapkan
2.      Implementasikan tindakan untuk mencegah infeksi:
-          Rawat luka dengan teknik steril
-          Tingkatkan intake cairan 2-3 liter/hari
-          Tingkatan nutrisi dengan diet TKTP
-          Gunakan pelunak feses bila terdapat konstipasi.
R/ Teknik steril untuk pencegahan pemindahan kuman. Dan cairan untuk memperlancar pengeluaran . Sedangkan nutrisi untuk meningkatkan ketahanan tubuh dan mempercepat pertumbuhan jaringan.
3.      Berikan antibiotika sesuai program medis.
R/ Antibiotika untuk menghambat dan membunuh kuman patogen.
4.      Pantau tanda-tanda radang: panas, merah, bengkak, nyeri, kekakuan.
R/ Untuk mengetahui secara dini terjadinya infeksi.


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda di Sini

Baca Juga

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Themes | Free Song Lyrics, Cara Instal Theme Blog